BARITO KUALA – Sebanyak 27 guru baru PPPK mata pelajaran Informatika dari Kabupaten Tanah Laut, mengikuti program Bimbingan Teknis Pengembangan Komunitas Belajar yang berlangsung di Harper Hotel Banjarmasin pada tanggal 16-19 September 2025. Program yang diinisiasi oleh Disdikbud SMP Tanah Laut dan dipercayakan kepada HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services) untuk diselenggarakan ini mengusung tema “Menguatkan Kompetensi Mengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial dengan Pedagogical Content Knowledge dalam Upaya Mencetak Future Ready Teachers”. Kegiatan pelatihan intensif selama empat hari ini bertujuan untuk mencetak pendidik yang siap menghadapi masa depan dalam mengintegrasikan teknologi pembelajaran modern di ruang kelas.

Sesi Pembukaan Hari Pertama Bimbingan Teknis

Acara pembukaan bimbingan teknis ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari kedua lembaga penyelenggara, yaitu Nina Richi Tresy Putri, S.Sos. (Sekretaris Umum Yayasan Hasnur Centre), Ubaidillah, S.Pd., Gr (Head of Department Training & Curriculum Content Development of HAFECS), dan Yudhistira Abdi Atmanegara, S.Si., Gr (Head of Department Teaching & Learning Certification of HAFECS), Girri Aristiadie, S.Pd., M.M. (Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Laut), dan Arie Irawan, S.Kom (Kepala Seksi Kurikulum, Kesiswaan dan Ketenagaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Laut).

Dalam sambutan pembukaan program bimbingan teknis, Girri menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas kesempatan Kabupaten Tanah Laut untuk kembali menjalin kerja sama dengan HAFECS. Kolaborasi yang berulang ini menunjukkan komitmen serius kedua pihak dalam memajukan kualitas pendidikan di daerah Tanah Laut. Girri juga menekankan tiga fokus utama dilaksanakannya bimbingan teknis, yaitu mindset, strategi, dan komitmen sebagai dasar transformasi pendidikan yang berkelanjutan. “Yang dilakukan para guru hari ini akan berdampak di kemudian hari.”, tegasnya.  Program ini diharapkan dapat diikuti secara bermakna oleh peserta agar kedepannya dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari, serta berbagi pengetahuan kepada sesama pendidik.

Agenda pembuka bimbingan teknis menampilkan Ubaidillah, S.Pd., Gr sebagai pemateri dengan topik “Future Ready Teachers: Membangun Kesadaran Guru Masa Depan”. Sesi pembuka ini menjelaskan perspektif mendalam tentang peran vital guru, sekaligus menjadi refleksi komprehensif bagi peserta dalam menghadapi tantangan pendidikan modern. Ubaidillah juga menyoroti transformasi berbagai sektor akibat penerapan KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial), menegaskan urgensi guru untuk mengintegrasikan pendekatan KKA dalam praktik pembelajaran mereka.

Hasil pre-test yang dilakukan HRP (HAFECS Research & Publication) yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan awal peserta sebelum pembelajaran dimulai menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sudah sangat memahami instrumen terkait KKA. Namun, penilaian pra-sesi mengungkap tantangan signifikan dimana terdapat beberapa peserta yang mengakui kesadaran pentingnya pembelajaran KKA masih terbatas, belum dapat memilih metode pembelajaran yang tepat, dan belum mampu merancang pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan KKA.

 

Pembelajaran Intensif Hari Kedua: Algoritma, AI, dan Transisi Koding Visual ke Teks

Sesi hari kedua dibuka oleh Hengki Dwiyan Hermawan, yang memperkenalkan konsep “Literasi Algoritma dalam Berpikir Komputasional” dengan menjelaskan empat konsep fundamental dalam berfikir komputasional. Keempat konsep tersebut meliputi algoritma sederhana, dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi. Dalam pemaparannya, Hengki memberikan contoh pengolahan data sederhana dan berbagai kegiatan pengenalan pola yang dapat diterapkan guru di kelas, memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis tanpa memerlukan latar belakang teknis yang mendalam.

Pada sesi berikutnya, Aulida Mardiari melanjutkan sesi pelatihan dengan membawakan topik “Benarkah Hasil Kecerdasan Artifisial (KA) Akurat 100%, Memahami Peran Training Data dalam Menentukan Akurasi KA”, yang menekankan bahwa KA bukanlah sistem sempurna dengan akurasi 100%, melainkan teknologi yang bergantung pada kualitas data training yang digunakan untuk melatih sistem tersebut. Sesi ini dilaksanakan dengan mengimplementasi langsung konsep dari data training bersama peserta menggunakan peralatan sederhana yang mudah didapat, sehingga memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana kualitas data input mempengaruhi output KA dan pentingnya kurasi data dalam pengembangan teknologi KA. 

Sesi pembelajaran dilanjutkan dengan dipandu oleh Ibu Nur Kholipah bersama Bapak Hamas Akief Sanie, para peserta diajak untuk memahami fondasi dasar dari dunia teknologi yang semakin berkembang pesat. Kedua fasilitator membuka diskusi dengan memberikan pemahaman yang jelas mengenai konsep fundamental koding, sekaligus menguraikan perbedaan mendasar antara koding dan pemrograman yang seringkali menjadi miskonsepsi  oleh banyak orang. Melanjutkan rangkaian kegiatan, sesi berikutnya oleh Bapak Hamas Akief Sanie yang kali ini didampingi oleh Ibu Farida Hayati,  mengajak peserta memasuki tahap pembelajaran dengan fokus pada transisi dari koding visual menuju koding berbasis teks yang lebih kompleks.

Implementasi Pedagogical Content Knowledge dan Simulasi Mengajar di Hari Ketiga Bimbingan Teknis

Beranjak ke sesi hari ketiga kegiatan bimbingan teknis, sesi selanjutnya difasilitasi oleh Yudhistira Abdi Atmanegara, S.Si., Gr. yang menjabarkan mengenai materi komprehensif mengenai pengenalan PCK (Pedagogical Content Knowledge) untuk KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial). Dalam penjelasannya, Yudhistira menghubungkan relevansi berpikir komputasional dengan framework TMF (Teaching Mastery Framework) pada aspek pertama, yakni PCK, sembari menguraikan bagaimana mengintegrasikannya dalam mata pelajaran Teknologi Informasi. Yudhistira juga memberikan ilustrasi konkret mengenai contoh-contoh praktis dan tahapan analisis berpikir komputasional untuk diterapkan pada berbagai mata pelajaran di jenjang SMP, membantu peserta memvisualisasikan implementasi nyata yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. 

Sebagai kegiatan final dalam kegiatan bimbingan teknis, semua peserta terlibat dalam sesi peer teaching dimana mereka mendapat kesempatan untuk berlatih mengajar di hadapan rekan sejawat dan para pengajar. Melalui simulasi praktik dengan menggunakan berbagai platform penunjang yang digunakan selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya mengasah kemampuan teknis mereka, tetapi juga memperoleh masukan konstruktif dari sesama fasilitator dan rekan yang lain. Suasana diskusi dan kolaborasi yang terbangun memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan pengalaman antar peserta, menciptakan dampak emosional positif berupa perasaan senang, terinspirasi, dan meningkatnya rasa percaya diri untuk mengajar. Metode ini terbukti efektif dalam mempersiapkan para pendidik menjadi lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran di era digital.

Penutupan Bimtek: Transformasi Nyata Menuju Digitalisasi Pendidikan

Penutupan kegiatan bimbingan teknis dihadiri oleh Danang Bagus Yudistira, S.Si., M.Sc. (Deputy Director of HAFECS), Ubaidillah, S.Pd., Gr (Head of Department Training & Curriculum Content Development of HAFECS), Yudhistira Abdi Atmanegara, S.Si., Gr (Head of Department Teaching & Learning Certification of HAFECS), serta Arie Irawan, S.Kom (Kepala Seksi Kurikulum, Kesiswaan dan Ketenagaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Laut).

Dalam sambutan penutupan, Arie mengakui adanya tantangan yang masih dihadapi guru TIK dalam menyesuaikan diri dengan capaian pembelajaran pemerintah. “Saya berharap guru-guru baru dapat menjadi pionir digitalisasi pendidikan di Tanah Laut setelah mengikuti kegiatan bimtek ini,” ungkapnya. Beliau juga mengapresiasi kemitraan strategis antara HAFECS dan Tanah Laut yang telah berlangsung selama tiga tahun, terlebih dengan antusiasme tinggi dari peserta yang 100% menyatakan keinginan mengikuti kegiatan serupa kembali.

Hasil dari evaluasi post-test kegiatan bimbingan teknis yang diadakan oleh HRP dan bertujuan untuk mengukur pencapaian pembelajaran setelah program selesai, memperlihatkan kemajuan signifikan dengan rata-rata skor yang meningkat dan perubahan nyata dalam tingkat kepercayaan diri peserta. Hampir seluruh peserta kini menyadari pentingnya pembelajaran KKA, meyakini perlunya pengajaran KKA sejak pendidikan dasar, lebih percaya diri untuk menerapkan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, serta mampu mengintegrasikan KKA dengan mata pelajaran lain.

Kesuksesan program bimbingan teknis ini terefleksi melalui antusiasme dan transformasi mindset yang dialami seluruh peserta. Dengan kombinasi suasana belajar yang kondusif, kolaborasi antar pendidik, serta pendampingan yang komprehensif, HAFECS telah berhasil menciptakan sebuah ekosistem pembelajaran yang tidak hanya mengubah cara pandang 100% peserta terhadap dunia pendidikan, tetapi juga membangun kepercayaan penuh untuk melanjutkan kemitraan jangka panjang. Ini bukan sekadar akhir dari sebuah program, melainkan awal dari perjalanan transformasi pendidikan yang berkelanjutan.

Jurnalis: Syifa’an Kamila