Maraknya kasus kekerasan yang mewarnai dunia pendidikan beberapa waktu terakhir membuat banyak pihak sadar, bahwa ada hal yang harus diperbaiki dalam proses pembelajaran. Hal ini disadari oleh sebuah lembaga pendidikan di Indonesia, yang mengungkapkan bahwa adanya kasus tersebut karena hubungan antara guru dan siswa yang perlu diperbaiki.

“Tidak dibenarkan ketika seorang guru melakukan tindak kekerasan pada peserta didiknya,” kata Zulfikar Allimudin, pemateri dalam HAFECS Class yang bertajuk Relevansi Pedagogi untuk Siswa Milennial di Yogyakarta, Rabu (27/3/2019).

Menurutnya, seharusnya seorang guru sudah mengetahui bagaiamana masing-masing karakter peserta didik sehingga tidak diperlukan aksi kekerasan.

“Guru itu juga perlu evaluasi, ketika siswa tidak mendengarkan kelas, maka dia (guru) harus berkaca. Barangkali itu karena dia (guru) ngajarnya membosankan,” ujarnya.

Zulfikar menekankan pentingnya komunikasi dalam dunia pendidikan. Karena lewat berkomunikasi inilah, seorang guru menyampaikan informasi atau materi pembelajaran dan murid menangkapnya.

“Tahap awal yang harus dibenarkan adalah komunikasi,” kata Wiliams Rahaditama, Program Planning Development HAFECS, saat diwawancarai oleh reporter, Rabu (27/3/2019).

Ia mengungkapkan bahwa masalah pendidikan di Indonesia adalah masalah yang cukup kompleks. Soal kasus kekerasan yang terjadi, ia tak bisa menyalahkan siswa sepenuhnya karena mereka masih anak-anak. Tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan guru sepenuhnya karena tiap guru punya masalah yang berbeda-beda.

“Proses pendidikan bukan hanya guru dan murid di sekolah, tapi juga harus melibatkan orangtua,” katanya.

Proses pendidikan tidak hanya selama anak di sekolah dan berinteraksi dengan guru saja. Proses ini berlangsung selama 24 jam, di mana orang tua juga memiliki peran untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak.

Wiliams, ketika ditemui disela workshop pendidikan, membeberkan bahwa guru menjadi agen perubahan dalam pengajaran untuk kualitas pendidikan siswa generasi milenial. Sehingga, penting halnya bagi para guru untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keahlian mengajar.

“Pengembangan guru masih belum terlalu diperhatikan oleh berbagai pihak. Padahal pengembangan guru jadi hal penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.

Ia berharap, dengan rutin digelar workshop pendidikan, para guru bisa menjadi lebih pandai untuk membimbing siswa millenial di zaman sekarang ini. Jangan sampai, siswa menjadi bingung saat memasuki dunia perkuliahan, lantara konsep pemikiran tidak terbentuk sejak SD hingga SMA. (asa/adn)

Sumber ; KUMPARAN ( Kasus Kekerasan di Dunia Pendidikan Akibat Kurangnya Komunikasi )

Subscribe To Our Newsletter

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

× Hallo kami siap membantu Anda