
Berlokasi di Asrama Haji Embakarsi Banjarmasin, kegiatan yang dilaksanakan pada 5-7 Agustus 2025 diharapkan mampu menjawab tantangan aktual yang dihadapi oleh para guru. Sebelum merancang kurikulum bimbingan teknis, HAFECS Research & Publication (HRP) terlebih dahulu melakukan studi pendahuluan. Dalam studinya, HRP menemukan bahwa permasalahan terbesar guru SD di Kabupaten Hulu Sungai Utara antara lain adalah kemampuan siswa yang sangat heterogen, kompetensi guru yang harus ditingkatkan, hingga kurangnya sarana prasarana, dukungan orang tua dan lingkungan sosial, serta tantangan administratif dan dinamika kebijakan.

Sebagai bentuk apresiasi kepada para guru peserta, pembukaan pada hari pertama dihadiri oleh Dr. Zulfikar Alimuddin, B.Eng., M.M selaku Direktur Eksekutif Yayasan Hasnur Centre yang juga membuka materi pertama pada bimtek ini terkait pembelajaran bermakna bagi anak sekolah dasar, di mana luara dari materi ini adalah terbukanya wawasan peserta akan pentingnya pendidikan yang membuat anak didik dapat berempati kepada subyek ajar. Selain itu, Rahman Heriadi, S.STP., M.Si. selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Hulu Sungai Utara juga berhadir dengan jajaran staff Bidang Pembinaan Guru &Tenaga Kerja lainnya.

Dalam sambutan yang diberikan, Rahman Heriadi, S.STP., M.Si. menyatakan “Setelah beberapa kali bekerja sama dengan HAFECS, banyak guru-guru yang merasa dapat membuat suasana kelas yang lebih hidup.” Beliau juga menambahkan “Tugas guru bukan hanya untuk mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga bagaimana guru dapat membangun karakter anak didik kita, dan bagaimana kita dapat mengungkap potensi peserta didik secara utuh.” Rahman Heriadi, S.STP., M.Si. juga mengharapkan para guru di Hulu Sungai Utara dapat membuat proses pembelajaran yang lebih bermakna, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang menginspirasi dan inklusif.
Langkah Strategis Dalam Mewujudkan Peningkatan Mutu Rapor Pendidikan
Menjawab tantangan yang dialami guru dalam meningkatkan mutu rapor pendidikan, HAFECS merancang berbagai macam materi untuk diajarkan kepada guru, yang kemudian dapat diimplementasikan di sekolah masing-masing. Sebagai contoh, memberikan penekanan pada kolaborasi antar sektor dalam menunjang kualitas pendidikan, materi ‘Menciptakan Lingkungan Belajar’ membuka perspektif peserta bahwa dalam menjamin mutu lingkungan sekolah, diperlukan adanya tanggung jawab bersama antara guru, siswa, dan manajemen sekolah. Selain itu, nemumbuhkan pola pikir berbasis literasi-numerasi kepada siswa, koding sederhana, dan pembelajaran STEM juga diajarkan untuk diterapkan para peserta di sekolah.
Menjembatani Pengetahuan Praktis dengan Pemecahan Masalah
Bimbingan teknis berdurasi 3 hari ini ditutup dengan kehadiran H. Mukhsin Haita, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Hulu Sungai Utara dan H. Hairansyah, SH., MH selaku Partnership Senior Executive Hasnur Centre. Dalam sambutannya, H. Mukhsin Haita menekankan bahwa DPRD Kabupaten Hulu Sungai Utara berkomitmen untuk terus melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak guna meningkatkan kompetensi, kualitas, dan kesejahteraan guru.
Sebagai bagian dari evaluasi program, hasil Survei Kebermanfaatan Program yang diorganisir oleh HRP menunjukkan bahwa HAFECS mampu menjembatani pengetahuan praktis yang didapat guru pada bimtek dengan kemampuan pemecahan masalah yang terjadi di sekolah. Survei ini menggaris bawahi keinginan 100% peserta terhadap HAFECS untuk menjadi konsultan dan pendamping sekolah. Berdasarkan hal ini, HAFECS berkomitmen untuk terus membersamai dan meningkatkan kompetensi guru berbagai jenjang agar terciptanya transformasi pendidikan di Indonesia.
Jurnalis: Yumna Amalia Maghfirah & Syifa’an Kamila


Dunia pendidikan perlu kolaborasi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan nasional tercapai.Hafecs terbaik
artikel ini benar karena saya telah mencoba nya sendiri dan itu berhasil 90 sampai 98 persen pelajaran yang sebelumnya tidak…
Terbaik
PCK sangat berpengaruh guna membangun karakter peserta didik guna menunjang pengetahuan yang akan kedepannya
Bagaimana upaya melestarikan budaya nasional pada generasi muda?