Selasa (10/05/2022), Banjarbaru – Kalimantan Selatan, HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services) menyelenggarakan kegiatan Workshop I POP (Program Penggerak Organisasi) Yayasan Hasnur Centre yang bertempat di aula BPMP (Balai Penjamin Mutu Pendidikan) Kalimantan Selatan. Dengan membawa tema “Menyongsong Kurikulum Merdeka dengan Ekosistem Pendidikan yang Inovatif”, workshop ini dihadiri oleh 40 guru jenjang sekolah dasar yang berasal dari Kota Palangkaraya, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kab. Banjar, Kab. Barito Kuala, dan Kab. Kapuas, serta tiga perwakilan Dinas Kab. Barito Kuala, Kota Banjarmasin, dan Kab. Kapuas. Adapun tujuan diadakan workshop ini untuk memberi pemahaman lebih dalam kepada guru bagaimana makna kurikulum merdeka sehingga mereka mampu mengimplementasikannya dengan baik.
Acara workshop dimulai pukul 10.15 – 15.00 WITA. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu dilanjutkan sambutan oleh perwakilan dinas Kab. Barito Kuala, Kota Banjarmasin, dan Kab. Kapuas, hingga pemaparan materi yang dibagi dua sesi. Sesi pertama diisi oleh Bapak Zulfikar Alimuddin selaku Direktur Eksekutif Yayasan Hasnur Centre, dan sesi kedua oleh Bapak Mahropiono selaku narasumber dari BPMP Prov. Kalsel.

Bapak Zulfikar Mengisi Sesi Pertama
“Di kurikulum merdeka tidak mengenal kata kelas lagi, tetapi fase. Dalam kurikulum merdeka tidak harus mengajarkan seluruh materi dan bebas menentukan KD dan KI nya. Menentukan sendiri CP, TP, dan ATP nya,” begitulah Pak Zulfikar memulai sesi materinya.
Dalam memaparkan materinya, Zulfikar berfokus pada kasus anak-bapak yang beliau temui ketika perjalanan ke luar pulau. Anak-bapak tersebut mengobrol ringan membahas perbedaan waktu antara Banjarmasin dan Surabaya. Dalam pemberian contoh kasus ini, Zulfikar bisa menjabarkan hal apa saja yang telah dipelajari anak lewat obrolan singkat dengan bapaknya. Salah satunya adalah coherence knowledge yang merupakan pengetahuan yang bisa mengidentifikasikan sesuatu (proses dalam menganalisis). Pengetahuan ini perlu untuk anak agar anak tidak belajar menghafal saja.
“Sejago-jagonya singa kalau masuk laut hidup, nggak?” Zulfikar mengawali pendefinisian ekosistem. Sama halnya dengan siswa, walaupun mereka semangat masuk kelas dan mengikuti pembelajaran, jika kurikulumnya yang tidak tepat, maka akan terjerumus juga. Terjerumus dalam kebodohan yang dipelihara. Oleh karena itu, kurikulum merdeka ada untuk memperbaiki ekosistem siswa dalam proses belajar.

Bapak Mahropiono Mengisi Sesi Kedua
Lalu pada sesi kedua diisi oleh Bapak Mahropiono. “Dalam kurikulum merdeka, perkembangan anak yang diutamakan. Jadi, proses yang diutamakan. Makanya kita tidak mengenal adanya ketuntasan karena kompetensi yang diutamakan bukan konten-konten materi yang dikerjakan, tetapi bagaimana anak bisa belajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, literasi dan numerasi kita kembangkan supaya anak bisa menuju ke situ,” Ucap Mahropiono dalam menjelaskan tujuan adanya kurikulum merdeka.
Workshop ini usai pada pukul 15.00 WITA ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian coffee break.
Penulis: Umisilvy


Dunia pendidikan perlu kolaborasi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan nasional tercapai.Hafecs terbaik
artikel ini benar karena saya telah mencoba nya sendiri dan itu berhasil 90 sampai 98 persen pelajaran yang sebelumnya tidak…
Terbaik
PCK sangat berpengaruh guna membangun karakter peserta didik guna menunjang pengetahuan yang akan kedepannya
Bagaimana upaya melestarikan budaya nasional pada generasi muda?