
(Source: Freepik.com)
Banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi membuat resah hati dan pikiran orang tua. Terlebih pada beberapa hari terakhir terdapat kasus yang menghebohkan seperti dugaan kasus pelecehan seksual pada anak di Luwu Timur. Berdasarkan data dari Databoks (2020) terdapat 57% kasus pelecehan seksual di Indonesia yang tidak mendapatkan penyelesaian yang jelas. Oleh karena itu, tugas kita sebagai pendamping anak adalah memberikan pendidikan seksual sedini mungkin untuk mereka yang masih belum mengerti dan belum berinteraksi dalam lingkungan sekolah. Kira-kira apa saja media dan metode yang dapat digunakan untuk anak prasekolah? Mari simak penjelasan berikut.
Seperti biasa agar lebih memahami konteks artikel ini, mari mengenal definisi pendidikan seksual terlebih dahulu. Pendidikan seksual adalah suatu pembelajaran mengenai kognitif, emosi, sosial, interaksi, dan aspek fisik dari seksualitas (Rosset, 2016). Sedangkan, menurut Roqib, M. (2008) Pendidikan seksual adalah usaha dalam memberikan pengajaran, penyadaran, dan penerangan terkait masalah-masalah seksual untuk anak, dengan memberikan pengarahan fisik, psikis, dan spiritual. Dari Chairilsyah (2019), menyebutkan pendidikan seksual sebagai pembelajaran mengenai sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas pada manusia, seperti hubungan emosional dan tanggung jawab, anatomi jenis kelamin manusia, dan kesepakatan usia untuk melakukannya. Berdasarkan tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan seksual adalah suatu pembelajaran yang mengedepankan pengajaran yang berhubungan dengan seksualitas dengan konteks dan konten yang menyesuaikan khususnya tentang fisik, rasa tanggung jawab, dan kesepakatan yang diberikan.
Sebelum lebih jauh membahas mengenai media dan metode pengajaran pendidikan seksual, mari menyinggung sedikit kendala yang sering ditemui dalam pemberian pendidikan seksual. Salah satu kendalanya adalah perspektif orang tua mengenai pendidikan seksual yang masih dianggap porno, atau mengajari anak bagaimana caranya berhubungan seksual sejak dini. Anggapan tersebut muncul dikarenakan pengetahuan orang tua mengenai pendidikan seksual untuk anak usia dini yang masih minim (Zakiyah dkk, 2019). Sehingga, diharapkan bagi pembaca untuk memiliki kesiapan dalam memberikan ajaran pada anak usia dini tentang pendidikan seksual dan melepas hambatan seperti yang dijabarkan diatas.
Mengapa pendidikan seksual ini diberikan pada anak usia prasekolah sangat penting? Karena anak adalah objek yang harus diberikan pemahaman terkait pendidikan seksual secara cukup untuk mencegah terjadinya bentuk-bentuk pelecehan seksual yang rentan terjadi. Semakin awal anak menerima pendidikan seksual, semakin matang pula informasi yang akan didapatkan sebagai bentuk stimulan terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan perilaku yang dapat menghindarkan dari kekerasan seksual (Tirtawinata, 2016).
Sebagai anak prasekolah yang rata-rata belum mengenal bahasa dan istilah yang kompleks, maka pemilihan metode yang sesuai dengan perkembangannya haruslah dilakukan. Anak yang tidak mengerti terhadap pendidikan seksual tidak hanya berpotensi menjadi korban pelecehan seksual, tetapi juga dapat berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual (Ambarwati, 2013). Selain itu, menjaga kebersihan dan bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan organ reproduksi pribadi adalah tanggung jawab tiap individu. Dalam Rimawati dan Nugraheni (2019) menyebutkan bahwa metode pendidikan seksual pada anak prasekolah yang sering digunakan berupa ceramah, diskusi kelompok, dan permainan yang dilakukan dengan media modul, infografis, dan games.
Dalam sebuah studi deskriptif secara nyata menyebutkan bahwa media yang efektif dalam memberikan edukasi adalah menggunakan alat-alat yang bersifat audio visual, yaitu alat peraga, gambar, dan keterampilan membersihkan alat klamin. Penyampaiannya bisa menggunakan teknik dongeng dibanding dengan media yang memberikan pesan seksual secara implisit (kartun atau video) (Handayani, 2016). Metode yang dapat diadopsi dalam memberikan perubahan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan adalah melalui games, di mana games dapat digunakan sebagai metode yang membantu anak-anak dalam berimajinasi, memberikan pesan moral yang mudah diterima, mengidentifikasi perilaku yang tepat dan tidak tepat, dan sebagai model yang tepat dalam memberikan edukasi terkait kesehatan (Baranowski, 2008).
Selain membahas hal yang berkaitan dengan media dan metode, konten pendidikan seksual juga penting untuk dipilih dan dimasukkan dalam pengajaran anak. Peran orang tua, guru, pengasuh, maupun pendamping lainnya sangat diperlukan pada bagian ini agar anak bisa mbendapatkan materi atau konten yang sesuai. Terlebih masih ada mispersepsi yang terjadi, seperti masih menganggap bahwa pendidikan seksual terlalu tabu untuk dibahas bagi mereka yang masih prasekolah. Konten-konten yang akan diberikan pada anak dikembangkan melalui taksonomi Bloom yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik serta Focus Group Discussion. Konten-konten tersebut kemudian dirumuskan ke dalam lima materi, yakni:
- Identitas Gender
Berisi mengenai materi tentang bagaimana cara membedakan perempuan dan laki-laki. Dengan menggunakan gambar dan anak-anak haruslah mengetahui mana laki-laki dan perempuan, serta mengetahui identitas gender mereka.
- Pengenalan Tubuh
Merupakan pengenalan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya, termasuk dengan fungsi organ reproduksi yang dimiliki dengan media manekin.
- Merawat Tubuh
Dilaksanakan dengan demonstrasi merawat tubuh yang dilaksanakan dengan role play dan menggunakan media gambar cara merawat tubuh.
- Aku dan Pakaianku
Bagian materi ini memberikan gambaran bagaimana cara perbedaan model pemakaian pakaian pada laki-laki dan perempuan. Dengan menggunakan media gambar dan juga video.
- Menjaga Tubuh
Materi ini berupa demonstrasi bagaimana cara menjaga tubuh dengan baik dan benar, khususnya jika terjadi ada bahaya pelecehan, pencabulan, dll. Serta tindakan pencegahan yang dapat dilakukan bagi anak-anak, bila selesai mandi, ditempat baru, tidur, dan lain-lain.
Berdasarkan pengembangan konten, metode, dan media yang dikembangkan oleh Situmorang (2020), materi-materi tersebut dapat dijadikan acuan bagi orang tua, guru, maupun pengasuh untuk memberikan pendidikan seksual bagi anak prasekolah. Selain itu, dapat pula melakukan pengembangan sendiri dengan metode dan media lain berdasarkan taksonomi Bloom, yang meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik serta bertahap sesuai perkembangan usianya.
Pada akhirnya pendidikan seksual pada zaman ini adalah suatu kebutuhan bagi semua kalangan, tidak hanya membahas tentang organnya saja, namun juga membahas tentang nilai dan norma yang berkaitan dengannya. Oleh karena itu, kita sebagai guru, orang tua, maupun pengasuh harus dapat menjadi pendamping bagi anak kita yang masih prasekolah agar mengerti tentang seksualitas.
Daftar Pustaka
- European Expert Group on Sexuality Education. (2016). Sexuality education–what is it?. Sex Education, 16(4), 427-431.
- Situmorang, P. R. (2020). Pengaruh Pendidikan Seks Anak Usia Prasekolah Dalam Mencegah Kekerasan Seksual. Jurnal Masohi, 1(2), 82-88.
- Roqib, M. (2008). Pendidikan seks pada anak usia dini. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 13(2), 271-286.
- Chairilsyah, D. (2019). Sex Education in the Context of Indonesian Early Childhood. International Journal of Educational Best Practices, 3(2), 41-51.
- Zakiyah, R., Prabandari, Y. S., & Triratnawati, A. (2016). Tabu, hambatan budaya pendidikan seksualitas dini pada anak di Kota Dumai. Berita Kedokteran Masyarakat, 32(9), 323-330.
- Tirtawinata, C. M. (2016). Importance of sex education since early age for preventing sexual harassment. Humaniora, 7(2), 201-209.
- Thompson, D., Baranowski, T., Buday, R., Baranowski, J., Thompson, V., Jago, R., & Griffith, M. J. (2010). Serious video games for health: How behavioral science guided the development of a serious video game. Simulation & gaming, 41(4), 587-606.
- Ambarwati, Retno. (2013). Peran Ibu Dalam Penerapan Pendidikan Seksualitas Pada. Anak Usia Pra Sekolah. Prosiding Konferensi Nasional PPNI Jawa Tengah.
- Rimawati, E., & Nugraheni, S. (2019). Metode Pendidikan Seks Usia Dini di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas http://jurnal. fkm. unand. ac. id/index. php.
- Yulianti, P. D., & Handayani, A. (2016). Peran guru dalam pendidikan seksualitas dan reproduksi bagi anak (prevensi kekerasan seksual anak). Eprints Universitas PGRI Semarang
- Jatmikowati, T. E., Angin, R., & Ernawati, E. (2015). Model dan materi pendidikan seks anak usia dini perspektif gender untuk menghindarkan sexual abuse. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 34(3).
- https://www.freepik.com/free-photo/happy-asian-family-using-computer-laptop-together-sofa-home-livingroom_16068000.htm#page=1&query=parenting&position=23&from_view=search
Penulis : Muhammad Zakwan
Editor : M. Rezeki Alvianto


Dunia pendidikan perlu kolaborasi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan nasional tercapai.Hafecs terbaik
artikel ini benar karena saya telah mencoba nya sendiri dan itu berhasil 90 sampai 98 persen pelajaran yang sebelumnya tidak…
Terbaik
PCK sangat berpengaruh guna membangun karakter peserta didik guna menunjang pengetahuan yang akan kedepannya
Bagaimana upaya melestarikan budaya nasional pada generasi muda?