Akses pendidikan yang layak adalah hak fundamental yang harus diberikan oleh pemerintah sebagai penjamin kesejahteraan kepada seluruh rakyat, tanpa memandang segmentasi masyarakat. Akan tetapi, merujuk pada kondisi saat ini, kualitas pendidikan yang tidak merata antara kawasan perkotaan dan pedesaan menjadi tantangan dalam pemenuhan hak tersebut. Upah guru yang masih sangat rendah, minimnya dukungan akan penguatan kompetensi, sarana prasarana yang kurang memadai untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, hingga keterbatasan dana pengembangan sekolah merupakan hambatan terbesar pendidikan di desa.

Sebagai agen transformasi pendidikan Indonesia, HAFECS dalam Program Desa Inovatif oleh Pemuda Bakti Banua, sebuah program pengembangan, pemberdayaan, dan pembangunan masyarakat berbasis wilayah pedesaan pada sektor sosial, ekonomi, dan pendidikan, berperan aktif dalam menyediakan pelatihan untuk meningatkan kompetensi mengajar guru-guru di desa sasaran program dalam periode tertentu. Berkolaborasi bersama Pemuda Bakti Banua, Politeknik Hasnur, Wetland Box, dan UPZ Bakti Bersama, program ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup desa, di mana HAFECS menjalankan perannya dalam melaksanakan 3 periode pelatihan dengan fokus peningkatan pengetahuan pedagogi dan konten, serta peningkatan kualitas pembelajaran dengan menerapkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) sejak Agustus 2023 hingga Juli 2024.

Studi pendahuluan oleh HAFECS Research & Publication pada guru di Desa Beringin dan Desa Sungai Pitung menunjukkan bahwa mayoritas pengajar jenjang TK hingga SMA tidak menempuh pendidikan formal sebelumnya. Temuan ini berbanding terbalik dengan keadaan lapangan di mana ada lebih banyak guru yang mengajar di sekolah formal, seperti TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, daripada sekolah non-formal, seperti Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan Al-Quran. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya dukungan akan pengembangan kompetensi yang diterima oleh guru-guru tersebut, baik dari sekolah tempat mereka mengajar, maupun otoritas daerah. Oleh karena itu, kebanyakan guru tidak memiliki pengetahuan pedagogi yang mumpuni untuk mendistribusikan informasi kepada siswa terkait mata pelajaran, yang mana berdampak pada keterbatasan akan pendidikan berkualitas.

Tantangan bagi sekolah-sekolah di Desa Beringin dan Desa Sungai Pitung untuk mencapai pembelajaran yang ideal juga datang dari penghasilan guru yang sangat rendah, di mana survei yang dilakukan oleh HRP untuk memetakan kondisi para guru dan sekolah menunjukkan bahwa rerata penghasilan peserta training setiap batch tidak lebih dari Rp1,000,000 per bulan. Minimnya jumlah pendapatan para guru mendorong mereka untuk mencari pekerjaan sampingan, sehingga terjadi penurunan fokus guru dalam mendidik siswa. Hal ini diperburuk dengan hasil survei HRP kepada beberapa guru, di sekolah yang menjadi sasaran utama pelatihan, di mana tidak hanya memberikan upah yang layak baru guru, sekolah juga memiliki keterbatasan dana untuk meningkatkan fasilitas belajar-mengajar.

Data Persentase Permasalahan Yang Dialami oleh Guru
Analisis HRP 2024

Pemetaan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah pada Desa Beringin dan Desa Sungai Pitung mendorong Highly Functioning Education Consulting Services untuk mengembangkan kemampuan guru mengajar melalui berbagai rangkaian pelatihan sebagai langkah awal transformasi pendidikan desa. Sebanyak 8 sesi pelatihan terkait Pedagogical Content Knowledge (PCK) untuk batch pertama dan kedua, serta 8 sesi training guna memperdalam pengetahuan Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada batch ketiga, dengan menghadirkan sesi Open Class agar guru-guru dapat melihat contoh praktis dalam penerapan HOTS dan PCK. Selain itu, sebagai apresiasi antusiasme guru-guru di kedua desa untuk berkembang menjadi pengajar yang lebih mumpuni sekaligus bantuan pengembangan kompetensi, HAFECS dan PBB bekerja sama dengan UPZ Bakti Bersama dalam menyalurkan bantuan finansial bagi peserta.

Grafik Perbedaan Hasil Pre-Test dan Post-Test Peserta Batch 1 dan Batch 2
Analisis HRP 2024

Berdasarkan data primer yang diambil dari hasil pre-test dan post-test peserta batch 1 dan 2 terhadap kemampuan PCK, HOTS, literasi, dan numerasi, terdapat peningkatan signifikan pada kompetensi PCK dengan nilai rerata peningkatan dari nilai awal mencapai 192% pada batch 1 dan 83% pada batch 2. Adapun kompetensi yang memiliki peningkatan terkecil adalah numerasi, dimana hal tersebut wajar terjadi, mengingat kurikulum training yang lebih menitikberatkan kepada PCK sebab adanya keharusan untuk menyesuaikan kemampuan awal peserta training agar materi dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu, berdasarkan hasil observasi Tim HRP, kurikulum pada batch 1 dan 2 dirancang dengan menghadirkan trainer praktis untuk melatih kebiasaan baik guru yang dapat diturunkan kepada siswa, seperti keberanian untuk bertanya dan memberikan timbal balik pada trainer.

Walaupun kurikulum yang diajarkan pada peserta sama, ada perbedaan yang krusial antara respon peserta batch 1 dan 2. Pada saat sesi pertama hingga kedua, peserta batch 2 memiliki tingkat keaktifan dan responsivitas yang cenderung lebih rendah dari kelompok peserta sebelumnya. Akan tetapi, peserta mulai menunjukkan keterlibatan langsung pada saat trainer menggunakan metode praktik dalam proses belajar-mengajar, yang kemudian terus berlanjut dan mengalami peningkatan hingga akhir periode pembelajaran. Berdasarkan hasil deep analysis terkait korelasi antara motivasi peserta dan sekolah asal, respon yang cenderung lebih pasif daripada batch sebelumnya ini dipengaruhi oleh mayoritas peserta memiliki usia yang lebih tua dan lebih banyak yang mengajar di sekolah non-formal, seperti TPA dan Madrasah Diniah, sehingga sulit untuk menerapkan metode PCK saat mengajar langsung.

Peningkatan nilai post-test peserta pada dua batch ini mendorong HAFECS dan HRP untuk mengeksplor pemahaman dan kemampuan beberapa peserta training guru, di mana pada batch 3, selain berfokus pada penerapan HOTS, HAFECS juga menghadirkan sesi open class. Berbanding terbaik dengan batch 2, berdasarkan profil, lebih dari 50% peserta adalah perempuan, mengajar di insitusi formal, dan tergolong ke dalam kategori pemuda, sehingga berpotensi menjadi agen perubahan desa. Guna mengoptimalkan pembelajaran, peserta dipilih berdasarkan komitmen dan antusiasme pada periode sebelumnya. Oleh karena itu, selain mengukur dampak training pada pola mengajar guru, asesmen mendalam juga dilakukan untuk memetakan perubahan motivasi peserta.

Aspek Yang Dilihat Saat Menyaksikan Sesi Open Class
Analisis HRP 2024

Hal yang membedakan periode ketiga dengan pelatihan sebelumnya adalah hadirnya sesi Open Class, di mana para guru menyaksikan langsung bagaimana seorang trainer mengajar di dalam kelas pada Global Islamic Boarding School dan menonton rekaman trainer lainnya. Menggarisbawahi penerapan pembelajaran berbasis PCK dan HOTS, guru-guru dari Desa Sungai Pitung dan Desa Beringin kemudian diminta untuk memaparkan beberapa hal yang mereka pelajari dari rekaman tersebut. Berdasarkan beberapa aspek pengajaran yang ditampilkan pada video, yang paling banyak diamati adalah bagaimana guru merespon pertanyaan, komentar, atau perilaku siswa di kelas yang mana mampu memberikan referensi  bagi peserta dalam membangun interaksi, memberikan motivasi, serta menjawab kebutuhan siswa secara individual maupun kelompok.

Sesi Open Class tidak hanya memberikan kesempatan pada guru peserta untuk melihat langsung bagaimana cara trainer mengajar siswa, namun sesi ini juga dianggap sebagai pembaharuan dari pelatihan yang dilakukan oleh HAFECS sebelumnya. Tidak hanya berfokus pada pengetahuan berbasis materi dan praktis, tapi memberikan para peserta contoh pengajaran yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya mendorong guru di kedua desa untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan kelas dan mempraktikkan pendekatan-pendekatan yang efektif, terbuka, terstruktur, dan menyenangkan bagi siswa di sekolah masing-masing. Dengan kata lain, sesi Open Class tidak hanya menambah wawasan teoritis, namun juga menghadirkan referensi terkait metode mengajar yang dapat diimplementasikan secara langsung.

Guna mengukur sejauh mana implementasi PCK dan HOTS oleh guru-guru binaan program Desa Inovatif, HRP melakukan wawancara pada 6 guru dan meminta semua guru untuk mengisi kuesioner berbentuk open-ended question. Berdasarkan temuan lapangan, keikutsertaan semua guru dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan wawasan, pengetahuan, dan pendalaman terkait PCK dan HOTS. 2 dari 10 guru juga menambahkan bahwa melalui program ini, mereka ingin menambah teman/relasi dan mengembangkan diri mereka sendiri. Hal ini menggaris bawahi adanya perubahan motivasi para peserta dari periode pertama sampai ketiga, di mana peserta tidak lagi hanya tergerak untuk mengikuti pelatihan berdasarkan renumerasi yang dijamin oleh UPZ Bakti Bersama, namun juga keinginan untuk mengembangkan pengetahuan sebagai seorang pengajar.

Dampak pelatihan terhadap penerapan PCK dan HOTS di sekolah masing-masing guru, juga HRP analisa menggunakan teknik deep-interview dan observasi pengajaran di dalam kelas pada 6 guru dengan pembagian 3 guru aktif dan 3 guru dengan keaktifan menengah selama sesi pelatihan. Berdasarkan hasil wawancara, semua guru mulai menerapkan pendekatan mengajar berbasis siswa, di mana mereka melakukan pendekatan yang mampu menyesuaikan kompetensi para siswa berdasarkan HOTS. Guru yang aktif selama pelatihan menambahkan bahwa mereka berhasil membuat suasana kelas menjadi lebih aktif dan kondusif melalui pertanyaan pemantik, sedangkan guru dengan keaktifan menengah tidak memberikan keterangan mengenai suasana kelas, namun mereka mengubah cara mengajar mereka agar siswa lebih paham dengan konteks pembelajaran.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pelatihan Pedadogical Content Knowledge (PCK) dan Higher Order Thinking Skill (HOTS) untuk para guru memberikan dampak yang signifikan bagi kompetensi guru. Sebelumnya, mereka tidak mengenal istilah PCK, HOTS, dan lainnya. Namun, setelah mengikuti pelatihan, tidak hanya menambah pengetahuan mereka, mayoritas guru secara aktif menjadi dapat mengimplementasikannya di sekolah. Keterlibatan positif guru-guru di Desa Beringin dan Desa Sungai Pitung menunjukan bahwa training guru mampu menjadi jembatan pengetahuan dan pengalaman praktis guru kepada istilah secara akademis bahkan teoritis.

Penulis: Yumna A. Maghfirah, Farida Hayati, Jimderik Siahaan, Raihani Raziqin