Pendahuluan:

Motivasi belajar siswa merupakan faktor penting dalam mencapai keberhasilan akademik dan pengembangan pribadi. Namun, seringkali siswa mengalami penurunan motivasi selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar mereka. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah formatif asesmen. Formatif asesmen memberikan kesempatan bagi siswa untuk menerima umpan balik yang konstruktif tentang proses pembelajaran mereka. Dalam artikel ini, akan dibahas pentingnya formatif asesmen dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa, dengan penekanan pada motivasi intrinsik. Selain itu, akan dijelaskan tentang pentingnya memberikan feedback yang baik kepada siswa. Artikel ini juga akan memberikan contoh penerapan asesmen dan feedback dalam konteks pembelajaran kimia. Dengan memahami konsep-konsep ini, diharapkan siswa dapat lebih termotivasi dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

 

Mengenal Empat Kategori Motivasi Belajar Siswa

Istilah lain dari Assessment for Learning (AFL) yang sudah kita kenal adalah formatif  Asesmen. Formatif asesmen merupakan tugas atau aktivitas yang dirancang untuk memberikan feedback kepada siswa mengenai proses belajarnya dan serta sebagai informasi bagi guru mengenai proses pembelajaran yang sedang dijalankan. Hasil penilaian ini tidak seperti nilai pada ulangan harian atau ulangan akhir semester (summatif assessment). Penerapan formatif asesmen yang baik di sekolah dapat menumbuhkan motivasi belajar bagi siswa dan membantu terwujudnya lingkungan belajar.

Sebagian besar siswa motivasinya mengikuti pelajaran disekolah bertujuan untuk mendapatkan nilai yang baik pada raport sedikit yang mengetahui nilai atau esesensi belajar itu sendiri. Ada empat katagori motivasi belajar siswa, antara lain :

  1. Extrinsic Motivation; berkaitan dengan faktor luar seperti hasil atau nilai akhir yang ingin dicapai atau profesi apa yang ingin diraih
  2. Intrinsic motivation; berkaitan dengan minat atau keinginan siswa sendiri untuk belajar
  3. Competitive motivation; berkaitan dengan hubungan dan persaingan antar sesama teman terhadap pencapaian belajar
  4. Social motivation; berkaitan dengan keinginan menjadi sukses sehingga dapat membahagiakan keluarga.

 

Bagaimana menumbuhkan intrinsic motivation?

Motivasi siswa dalam belajar merupakan campuran dari keempat kategori di atas. Akan tetapi yang lebih penting adalah jika motivasi siswa yang terbesar untuk belajar adalah berasal dari dalam dirinya sendiri, memahami esensi setiap yang dipelajarinya, selalu  ingin tahu tentang ketercapaiannya dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal tersebut dapat  tercapai dengan melakukan formatif asesmen yang selalu mengukur sejauh mana proses pembelajaran berjalan dengan baik dan akan memberikan feedback kepada siswa. Melalui Feedback  siswa dapat mengetahui posisi atau ketercapaiannya pada proses pembelajaran sehingga siswa dapat memperbaiki dirinya dan memutuskan apa saja yang ingin mereka capai selanjutnya.

 

Bagaimana Feedback yang baik ?

Feedback akan memberikan dampak positif yang besar terhadap siswa.  Akan tetapi guru mesti berhati-hati dalam memberikan feedback jangan sampai kalimat atau komentar kita malah membuat mereka tidak semangat. Hal-hal berikut yang dapat menimbulkan siswa tidak bersemangat setelah mendapatkan feedback,  antara lain :

  • Siswa merasa feedback yang diberikan tidak adil
  • Feedback yang diberikan tidak jelas, sehingga siswa tidak memahaminya
  • Feedback yang diberikan tidak berhubungan pekerjaan, aktivitas atau tugas yang telah mereka selesaikan
  • Feedback yang diberikan biasanya berisi kritikan dan tidak membangun

Feedback yang diberikan ke siswa harus jelas dan tidak menimbulkan kebinggungan bagi siswa.  Haines (2004) dalam bukunya mengatakan ada dua tipe yang menjadi kerangka dalam menyampaikan feedback, antara lain :

1) The Feedback sandwich, yang terdiri dari :

  • Penghargaan terhadap keunggulan atau kekuatan
  • Kelemahan yang perlu diperbaiki
  • Aspek lain yang dapat di kembangkan

2) The interactive approach;  bertujuan untuk mendorong siswa untuk dapat menilai diri sendiri

  • Menanyakan apa yang dapat diperbaiki atau dirubah menjadi lebih baik
  • Mendiskusikan bagaimana proses perbaikannya

 

 

Penerapan Asesmen dan Feedback dalam Pembelajaran Kimia

Salah satu contoh cara asesmen dan melakukan feedback pada pelajaran kimia, yaitu menyelesaikan soal yang berhubungan dengan kesetimbangan kimia.

Jika dalam proses pengerjakaannya ada siswa yang belum paham, maka cara measesnya adalah :

Bisa jadi siswa kita dalam memahami kalimat pada soal saja sudah mengalami kesulitan. Oleh karena itu perlu asessment setiap bagian kegiatan pembelajaran.

 

Kesimpulan

  1. Formatif asesmen memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerima umpan balik yang konstruktif tentang proses pembelajaran mereka.
  2. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri siswa, dapat ditingkatkan melalui formatif asesmen yang memberikan pemahaman esensi pembelajaran dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
  3. Feedback yang baik haruslah jelas, relevan, dan membangun. Pendekatan seperti “The Feedback Sandwich” dan “The Interactive Approach” dapat digunakan dalam memberikan feedback kepada siswa.

 

 Daftar Pustaka

Haines, C. 2004. Assessing Students’ Written Work: marking essays and reports. Routledge; London.

Irons, Alastair. 2007. Enhanching Learning through Formative Assessment  and Feedback. Routledge; New York

 

Baca juga berita dan artikel kami di WA channel kami: WA channel HAFECS