PENDAHULUAN

Sekolah merupakan organisasi yang bergerak dibidang pendidikan formal yang sangat sarat dengan ilmu pengetahuan dimana ditengah era globalisasi dan masyarakat multikultural, peranan sekolah sekarang mengalami tantangan yang besar dibandingkan dengan masa lalu yang hanya menitik beratkan dengan membangun kemampuan baca-tulis dan keterampilan berhitung sederhana dan mendorong industrilisasi.

Diera globalisasi sekarang dimana industri-industri sudah banyak terbentuk, maka peranan sekolah bergeser dengan menitik beratkan pada pengetahuan itu sendiri dan  meningkatkan pola pikir seseorang serta membangun keterampilan agar dapat berkontribusi, berinovasi, hidup layak dan dapat mengatasi masalah yang dihadapi.

Ada tiga subjek inti pendidikan abad 21, yaitu :

Life and Career Skills, (keterampilan hidup dan berkarir)

Meliputi kemampuan mengadaptasi perubahan, dan fleksibel dalam belajar dan berkegiatan dalam kelompok, memiliki inisiatif dan dapat mengatur diri sendiri, berinteraksi sosial dan antar-budaya, mampu mengelola projek dan menghasilkan produk, kepemimpinan dan tanggungjawab.

 

Learning and Innovation Skills ( keterampilan belajar dan berinovasi)

Meliputi  berpikir kritis dan mengatasi masalah,komunikasi dan kolaborasi, kreativitas dan inovasi

 

Information Media and Technology Skills (Information media and technology skills)

Meliputi: Literasi informasi: peserta didik mampu mengakses informasi secara efektif (sumber nformasi) dan efisien (waktunya); mengevaluasi informasi yang akan digunakan secara kritis dan kompeten; mengunakan dan mengelola informasi secara akurat dan efektf untuk mengatasi masalah.Literasi media: peserta didik mampu memilih dan mengembangkan media yang digunakan untuk berkomunikasi.Literasi ICT: peserta didik mampu menganalisis media informasi; dan menciptakan media yang sesuai untuk melakukan komunikasi.

Dari ketiga aspek tersebut dan bedasar bahwa sekolah adalah tempat pengetahuan, maka yang dirasa penting untuk dibahas adalah membangun keterampilan Information media and technology skills untuk itu budaya literasi disekolah harus benar-benar di kelola dan terbentuk dengan baik.

 

PERMASALAHAN

Salah satu hasil survei literasi yang telah diikuti Indonesia, yaitu PISA pada 2009 dan 2012 menunjukkan bahwa praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca untuk mendukung mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat. Dengan kata lain permasalahn didisi secara umum adalah masih belum baiknya pengelolaan pengetahuan di sekolah sehingga kemampuan literasi siswa dan guru sekolahnya masih rendah. Saat ini masih kita lihat dan rasakan bahwa ketersedian informasi pengetahuan yang beredar belum memberikan dampak yang positif baik dalam meningkatkan pola pikir maupun pembentukan sikap dan perilaku yang baik pada siswa dan guru. Hal tersebut diakibatkan karena kemampuan untuk mencari, mendapatkan dan mengidentifikasi serta mengkritisi informasi yang di dapat masih kurang. Sistem yang sistematik dalam hal mengelola pengetahuan disekolah masih belum ada. Sehingga dalam mendapatkan dan memanfaatkan informasi masih belum terstruktur.

Selain itu masih terdapatnya ketimpangan tingkat kemampuan berpikir antara siswa dan sesama guru yang satu dengan yang lain dalam hal memahami suatu persoalan, dimana ini diakibatkan dari kurang meratanya pengetahuan yang beredar dan di dapat oleh setiap warga sekolah, kurangnya minat dan motivasi untuk membaca dan menghasilkan karya atau tulisan sedangkan budaya literasi sangat erat kaitannya dengan membaca. Sebagai ilustrasi pembanding, yang telah dilakukan oleh siswa SMP di Amerika selama tiga tahun telah membaca 3312 halaman dan siswa SMA sepanjang tiga tahun membaca 4824 halaman. Artinya, seorang siswa yang telah menamatkan SMP dan SMA selama enem tahun sudah terlatih membaca sebanyak 24408 halaman. Kondisi demikian tentu memberikan harapan yang kuat akan keberhasilan studi mereka diperguruan tinggi kelak (Tim Puspendik, 2012).

Kurang banyaknya kegiatan-kegiatan disekolah yang menunjang atau membangun budaya literasi juga sangat berpengaruh. Selama ini kegiatan literasi hanyalah sebatas kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa pada saat di kelas saja itu pun belum optimal. Berdasarkan riset yang dilakukan UNY (2011) ditemukan beberapa kompetensi dalam pemebelajaran bahasa dianggap sangat sulit. Beberapa kompetensi tersebut adalah menemukan ide utama dan ide penjelas paragraf, menemukkan kalimat yang berupa fakta dan opini dalam tajuk rencana, menemukan unsur-unsur intrinsik puisi, menemukan unsur-unsur intrinsik cerpen/novel dan menemukan nilai-nilai dan amanat Hikayat (Sastra Melayu klasik). Selain itu, hasil studi yang dilakukan IEA melalui program PIRLS pada tahun 2011 mengenai kemampuan membaca siswa Indonesia di dunia didasarkan atas hasil tes untuk mengukur hasil membaca teks sasta dan teks informasi. Komposisinya adalah 50% teks sastra dan 50% teks informasi dengan rincian, 20% difokuskan pada informasi yang dinyatakan secara tersurat untuk diulang, 30% membuat inferensi dengan jelas, 30% menafsirkan dan memadukan gagasan dan informasi, serta 20% memeriksa dan nilai isi, bahasa dan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks. Berdasarkan hasil studi tersebut secara umum kemampuan membaca siswa Indonesia dalam standar Internasional masih belum memadai (Tim Puspendik, 2012).

 

PEMBAHASAN DAN SOLUSI

Secara umum masalah sulitnya terbentuk budaya literasi disekolah adalah kurang baik atau tidak terstukturnya pengelolaan pengetahan disekolah atau di satuan pendidikan. Perlu adanya suatu sistem yang mengatur secara sistematis dalam hal pengelolaan pengetahuan ini. Sistem yang dirasa tepat dan yang berhubungan dengan pengetahuan adalah Knowledge Management System (KMS).

KMS berkaitan dengan cara suatu organisasi atau lembaga dalam hal ini sekolah dalam memanfaatkan dan mengelola pengetahuan yang akan mendorong pada peningkatan kemampuan suatu lembaga untuk terus belajar dan pembentukan budaya literasi sekolah. Menurut Koina dalam Siregar (2005) Knowledge Management adalah suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua asset informasi suatu organisasi. Sedangkan Laudon (2002)mengatakan bahwa Knowledge Management berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut. Teknologi informasi memainkan peranan penting dalam manajemen pengetahuan sebagai pemungkin proses bisnis yang bertujuan yang bertujuan untuk menciptakan, menyimpan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan.

Dalam mengimplementasikan Knowledge Management disekolah agar berhasil dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah strategik. Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah :

  • Identifikasi informasi dan pengetahuan yang ada (tacit Knowledge maupun explicit Knowledge) karena informasi dan pengetahuan merupakan modal dasar. Informasi adalah data dalam suatu konteks. Informasi adalah penjelasan, paparan dan penginterprestasian dari suatu data atau rangkaian data yang menunjukkan sesuatu. Misalnya suhu badan di atas 42oC menunjukkan demam dan detak nadi di atas 120 per menit mengidentifikasi kondisi seseorang kurang/tidak baik. Pengetahuan adalah informasi yang terkoordinasi, tersintesiskan dan merupakan ringkasan yang bermakna. Sedangkan pengetahuan merupakan kombinasi metadata dan suatu pemahaman dalam konteks yang berkaitan dengan metadata tersebut. Suatu contoh, pasien dengan demam dan detak nadi yang tinggi mengidentifikasi bahwa ia menderita serius penyakit flu, sebab itu harus diberi pengobatan dengan segera jika tidak maka akan berakibat fatal. Pengetahuan terdiri dari dua komponen dasar, yaitu tacit dan explicit. Menurut Nonaka & Takeuchi (1995) explicit knowledge bersifat formal dan sistematiksehingga dapat dengan mudah diungkapkan dengan kata-kata atau bilangan. Explicit knowledge dapat berupa buku, database, file dan dokumen (Feghali, 2008). Tacit knowledge merupakan pengetahuan bersifat sangat pribadi, abstrak dan sulit dikongkritkan, ia berkaitan dengan berbagai faktor, antara lain perasaan, intuisi, nilai-nilai, , keyakinan dan pengalaman.

 

  • Identifikasi infrastuktur yang ada, misalkan perpustakaan, internet,
    Resource Center, system information, teknologi informasi dan lainnya.

 

  • Identifikasi ketersediaan Tim manajemen pengetahuan. Tim ini lah yang akan secara aktif mencari, mengumpulkan, membagikan, dan menyimpan pengetahuan serta mengevaluasi jalannya sistem dan produk pengelolaan pengetahuan di sekolah. Setelah dilakukannya langkah awal tersebut, maka dapat dimulai penerapan Knowledge Management system dalam rangka menumbuhkan budaya literasi di sekolah. Alur proses penerapan KMS dapat digambarkan sebagai berikut :

Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

Proses KM Jenis Kegiatan Uraian Kegiatan KM
INPUT 1. Identifikasi informasi dan pengetahuan

2 Identifikasi infrastruktur

3. Indentifikasi Tim Manajemen Pengetahuan

– Proses identifikasi informasi dan pengetahuan dapat dilakukan dengan mendata jumlah  ketersediaan buku di perpustakaan, mendata informasi dan pengetahuan

apa yang diperlukan oleh siswa dan guru dalam menunjang proses pembelajaran ini yang akan menjadi modal pengetahuan disekolah

– Identifikasi infrastruktur dengan penyediaan perpustakaan yang merupakan tempat pengetahuan berupa bukubuku dan dokumen berupa hard copy. Selain

perpustakan yang mungkin bisa diusahakan adalah adanya Resource Centre,dimana bagian ini berperan dalam pencarian sumbersumber pengetahuan yang berasal dari internet, berupa buku-buku elektronik, jurnal-jurnal pendidikan dan penelitian, dengan kata lain Resource Centre seperti perpustakaan digital. Untuk menunjang dan mempermudah KM dibentuk informasi sistem yang akan mempermudah pengguna (warga sekolah)dalam me-akses,mencaridan mengambil/mengunduh pengetahuan yang mereka

inginkan.

– Segera mungkin membentuk tim manajemen pengetahuan yang secara khusus memikirkan proses penerapan dan mengevaluasi Knowledge Management

ACTIVITIES ·       Penerapan KM di sekolah; melakukan kegiatan-kegiatan pembentukan budaya literasi Secara umum proses Knowledge Management adalah Searching, Sharing

dan Storage.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya ada yang disebut dengan Transformasi atau konversi pengetahuan. Nonaka dan Takeuci (1995) memperkenalkan konversi pengetahuan model SECI,
Socialization, Externalization,
Combination dan
Internalization. Socialization (Sosialisasi) adalah transfer pengetahuan dari tacit ke
tacit. Melalui sosialisasi seseorang diharapkan dapat menangkap tacit Knowledge orang lain atau sebaliknya. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti diskusi, seminar atau
Sharing mengenai pengalaman cara belajar siswa dan kisah sukses seseorang, serta pada kalangan guru dapat dilakukan kegiatan sharing pengalaman mengajar dikelas, melakukan
open class dimana guru bisa masuk dikelas guru lain dan memperhatikan gaya guru bersangkutan dalam mengajar. Externalization (Eksternalisasi) adalah transfer pengetahuan yang dilakukan dari tacit ke explicit. Proses ini berupaya mengkonkritkan pengetahuan
tacit menjadi explicit melalui metafora, analogi atau model. Kegiatan ini bisa berupa lomba menulis dikalangan siswa dan guru, pembuatan karya tulis, pembuatan jurnal penelitian pendidikan dan pengajaran oleh guru, pembuatan buku dan sebagainya. Combination (kombinasi) adalah proses

membuat konsep-konsep secara sistematik menjadi suatu pengetahuan yang terstruktur. Kombinasi adalah proses pengayaan suatu pengetahuan explicit dengan pengetetahuan explicit yang lain. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah membuat rancangan proyek bersama dikalangan siswa dan guru yang berhubungan dengan literasi, lingkungan dan sebagainya. Internalization (Internalisasi) merupakan suatu proses yang mencakup konversi dari explicit
knowledge ke tacit knowledge, yang terjadi ketika explicit knowledge dimanfaatkan bersama (sharing) melalui organisasi dan jaringan informasi untuk memperluas, mengkerangkakan kembali (reframe) dan mengembangkan tacit
knowledgenya. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah bedah buku, pelatihan, kegiatan motivasi, penerapan teori yang ditemukan pada sebuah buku.

dalam meningkatkan prestasi belajar dan sebagainya.

– Searching; dengan adanya Knowledge
Management system, sebagai pengguna pengetahuan dalam hal ini siswa dan guru dapat dengan mudah mencari pengetahuan atau informasi yang diinginkan dengan efektif, fesien dan mudah. – Sharing; dalam proses pemindahan pengetahuan ini, para pengguna dapat dengan mudah mendapatkannya bisa melalui peminjaman sederhana maupun digital atau dengan mengunduh file yang diinginkan.

– Storage; Dengan Sistem KM ini pengetahuan dengan mudah disimpan dan aman serta terjaga keawetannya dan dilalukan proses pengkodean.

OUTPUT Hasil yang dapat dihasilkan pada penerapan KM terhadap penciptaan budaya literasi antara lain :

– Potofolio yang berisi daftar judul buku/artikel/jurnal yang telah dibaca siswa dan guru

– Portofolio yang berisi hasil ringkasan buku yang dibaca dan karya teks yng dibuat siswa dan guru – Jurnal hasil penelitian guru

– CD rekaman proses pebelajaran di kelas

OUTCOME Outcome yang diharapkan adalah terbentuknya budaya literasi disekolah
IMPACT Impact yang diharapkan dengan terbentuknya budaya literasi di sekolah adalah pola pikir warga sekolah menjadi lebih baik dan berkembangnya berpikir kritis sehingga lahirlah keinginan belajar sepanjang hayat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budihardjo, Andreas. 2016. A Guide Book Knowledge Management;
Efektif Berinovasi Meraih Sukses. Jakarta : Prasetiya Mulya Publishing.

Feghali, Tony and Jamal El-Den. Knowledge Transformation Among
Virtual Cooperating Group Members.Lebanon :The Sulaiman S. Olayan School of Business.

Quinn, R. 2011. Literacy and Numeracy for learning and Life. Dublin: Departement of Education and Skills.

Khuzaeva, Eva Siti. 2014. Mengembangkan Pola pikir Cerdas, Kreatif dan
Mandiri melalui telematika. Banten : Widyaiswara Network
Journal.

Rodin, Rhoni. 2013. Penerapan Knowledge Management di
Perpustakaan.Curup Bengkulu. Khizanah Al-Hikmah.

Tim penyusun dan pengembang. 2016. Panduan Gerakan Literasi
Sekolah di Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tim Puspendik. 2012. Analisis Hasil Belajar Peserta Didik Dalam Literasi
Membaca Melalui Studi Internasional PIRLS 2011. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Widdah, Minnah El. 2012. Pola Pikir dan Pendidikan. Journal Al-Ulum; Vol 1

 

Baca juga berita dan artikel kami di WA channel kami: WA channel HAFECS