Mengusung Tema “Sosiolinguistik” HAFECS Berhasil Gelar Workshop Yang Ke-2 Bersama Para Perwakilan Guru Kalimantan Selatan Dan Kalimantan Tengah.

Selasa (24/05/2022), Kab. Barito Kuala – Kalimantan Selatan HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services) menyelenggarakan kegiatan Workshop 2 POP (Program Penggerak Organisasi) realisasi kerjasama antara Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan di bawah naungan Yayasan Hasnur Centre yang bertempat di ruang auditorium GIBS (Global Islamic Boarding School) dihadiri oleh perwakilan guru-guru yang ada di kalimantan selatan dan tengah dengan total 40 guru SD mengusung tema “Pembelajaran Dengan Pendekatan Sosiolinguistik Untuk Menunjang Peningkatan Kompetensi Abad 21”. Kegiatan ini bertujuan membangun semangat guru dalam belajar dan mengajar untuk mentransformasi pendidikan Indonesia.

Kegiatan workshop dimulai pada pukul 09.30 – 15.00 WITA. Membuka acara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama setelah itu sambutan yang diberikan oleh penanggung jawab acara POP yaitu Bpk. Danang Yudhistira beliau sekaligus menyampaikan perwakilan salam hangat dari Bpk. Zulfikar Alimuddin selaku Direktur Eksekutif Yayasan Hasnur Centre yang tidak dapat berhadir. Setelah sambutan dilanjutkan foto bersama untuk seluruh tamu undangan dan para penyelenggara acara.

Acara tersebut terbagi menjadi 2 sesi untuk pemaparan materi. Sesi yang pertama yaitu pemaparan materi disampaikan langsung oleh Bpk. Danang Yudhistira mengenai “Bahasa dan cara berkomunikasi terhadap siswa” Sesi ke kedua pemaparan materi dari Bpk. Bayu Ramadhan selaku kepala konselor dan psikolog dari GIBS (Global Islamic Boarding School) membahas mengenai Praktek Pengajaran Dengan Pendekatan Sosiolinguistik.

*Pengisi sesi pertama Pak Danang

“Belajar itu adalah momen ketika kita menyadari kesalahan kita, karena ketika seseorang itu belum menyadari kesalahannya, maka dia baru berpengetahuan. Sedangkan makna belajar itu adalah ketika pengetahuan telah mengejawantah menjadi perilaku, maka dapat disimpulkan belajar itu komponen utamanya adalah berbuat kesalahan. Belajar itu adalah proses untuk menyadari kesalahan.” Itu tadi awal pemaparan kata yang disampaikan oleh Pak Danang.

Pak Danang mencoba menjelaskan melalui pesan tersebut bahwa ketika murid sudah melakukan kesalahan itu merupakan awal dari mereka untuk mendapatkan pembelajaran dan pengalaman dari sebuah kesalahan yang dibuat. Maka sah-sah saja ketika dalam sebuah kelas murid berpotensi untuk melakukan kesalahan. Disini Pak  Danang mencoba membagun cara berpikir yang berbeda kepada para guru dalam mengatasi suatu problem yang sering terjadi didalam proses pembelajaran.

Disela-sela acara diselingi beberapa informasi mengenai Sosialisasi Pretest dan Posttest untuk para guru yang disampaikan oleh dari  salah satu Tim HRP Yayasan Hasnur Center yaitu Bpk. Ari Poli.

Selanjutnya ada beberapa informasi mengenai Program Organisasi Pergerakan (POP) oleh Ms.Nur Kholipah selaku Asisten Direktur Eksekutif Yayasan Hasnur Centre.

*Pengisi sesi kedua Pak Bayu

“Jika membahas mengenai perbedaan mendidik atau mengajar, mendidik itu lebih dalam maknanya dibandingkan dengan mengajar, mengajar berarti hanya mentransfer ilmu saja setelah anak itu sudah paham berarti itu sudah selesai. Sedangkan dalam mendidik ada value dan karakter yang di bangun tententunya maka bersama dengan itu kita guru indonesia melalui kementerian kebudayaan kita yakin bahwa ada satu karakter yang dapat kita bangun bersama yaitu karakter Pancasila, yang mana ini pastinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.” itu tadi diskusi pembukaan materi awal yang disampaikan oleh pak bayu mengenai makna pentingnya pendidikan karakter terhadap siswa.

Workshop 2 POP berakhir pada pukul 15.00 WITA para guru melakukan registrasi kelengkapan dokumen peserta dan diselingi coffee break.

 

Skills

,

Posted on

June 15, 2022

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *