Barito Kuala – HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services) berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum Nusantara bertajuk “Kolaborasi Pentaheliks sebagai Wujud Nyata Pelestarian Kebudayaan Indonesia”. Kegiatan yang berlangsung di kampus Politeknik Hasnur (Polhas) pada Rabu, 26 Agustus 2026 ini diikuti oleh 76 peserta yang didominasi oleh kalangan mahasiswa dan generasi muda dari berbagai perguruan tinggi serta komunitas di Kalimantan Selatan.
Kuliah umum ini menghadirkan Staf Ahli Bidang Hukum dan Kebijakan Kementerian Kebudayaan RI, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri, S.IP., M.A., sebagai narasumber utama. Kehadiran beliau disambut antusias oleh para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Politeknik Hasnur, Universitas PGRI Kalimantan (UPGRIK), serta sejumlah instansi dan organisasi kepemudaan lainnya. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran generasi muda terhadap kekayaan warisan budaya Banua mulai dari kesenian tutur Madihin, kain tradisional Sasirangan, tari Baksa Kembang dan Radap Rahayu, Pasar Terapung, teater tradisional Mamanda, Musik Panting, hingga kuliner khas Banjar—sekaligus membangun sinergi lintas sektor dalam menjaganya.
Dalam pemaparannya, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri, S.IP., M.A. menekankan pentingnya pendekatan kolaborasi pentaheliks yang menyatukan peran akademisi dan dunia pendidikan, pemerintah, sektor swasta, komunitas budaya, serta media sebagai wujud nyata pelestarian kebudayaan Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan. Diskusi juga menyoroti berbagai tantangan pelestarian budaya di era modern, di mana arus globalisasi dan dominasi budaya digital kerap memicu bergesernya minat generasi muda terhadap budaya daerah, di samping masih terbatasnya regenerasi pelaku seni lokal. Pentingnya kesadaran generasi muda terhadap tantangan ini turut menjadi refleksi bersama selama kegiatan berlangsung:
“Modernisasi dan dominasi budaya digital membuat pemuda Banjar kian asing dengan bahasa daerah, sastra lisan (seperti madihin dan lamut), serta filosofi hidup lokal.” — Heny Aprilianti (MI Nurul Ain)
Melalui penyampaian materi yang praktis dan sesi tanya jawab yang interaktif antara pemateri dan mahasiswa, peserta diajak melihat kebudayaan daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang dapat dikembangkan secara kreatif mengikuti perkembangan zaman. Hampir seluruh peserta menyepakati pentingnya sinergi pentaheliks tersebut dan menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat aktif dalam gerakan pelestarian budaya apabila difasilitasi melalui ruang kolaborasi yang tepat.
Sebagai tindak lanjut untuk memperkuat ekosistem budaya di Kalimantan Selatan, para peserta juga merumuskan sejumlah gagasan program yang dinilai mendesak untuk dihadirkan bagi generasi muda. Beberapa inisiatif utama tersebut meliputi penyelenggaraan pentas, festival, dan pameran seni sebagai ruang tampil bagi mahasiswa serta pelaku seni lokal, pelaksanaan workshop tari, musik, dan bahasa Banjar di lingkungan sekolah maupun komunitas, hingga penguatan dokumentasi serta konten kreatif digital kesenian Banjar dan restorasi ekosistem budaya sungai di media sosial agar lebih dekat dengan Generasi Z.
Melalui kolaborasi antara HAFECS, Politeknik Hasnur, dan Kementerian Kebudayaan RI, kegiatan Kuliah Umum Nusantara ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem pelestarian budaya yang berkelanjutan di Kalimantan Selatan. Ke depan, HAFECS juga diharapkan dapat terus berperan sebagai fasilitator ruang berkegiatan, penggerak generasi muda, serta jembatan kolaborasi dan digitalisasi budaya agar warisan luhur Kalimantan Selatan tetap lestari dan relevan lintas generasi.
DOKUMENTASI KEGIATAN

Jurnalis: Farida Hayati, Raihani Raziqin, dan Siti Rahmah


Dunia pendidikan perlu kolaborasi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan nasional tercapai.Hafecs terbaik
artikel ini benar karena saya telah mencoba nya sendiri dan itu berhasil 90 sampai 98 persen pelajaran yang sebelumnya tidak…
Terbaik
PCK sangat berpengaruh guna membangun karakter peserta didik guna menunjang pengetahuan yang akan kedepannya
Bagaimana upaya melestarikan budaya nasional pada generasi muda?