SLEMAN – Berbagai metode pengajaran di sekolah yang dirasa masih kurang efektif membuat lembaga pelatihan guru HAFECS mengadakan School Leader Gathering kepada 30 kepala SMP/SMA dan perwakilan dinas pendidikan se-DIJ, Kamis (25/4). Bertempat di sebuah hotel di kawasan Seturan, pelatihan tersebut mengusung topik ”Teaching Grading and Review”.

”Kami perhatikan di sekolah yang kami kelola, Global Islami Boarding School di Kalimantan Selatan, banyak tindakan guru yang kurang tepat seperti menyalahkan siswa ketika materi tidak tersampaikan,” ungkap Direktur HAFECS Zulfikar Alimuddin pada Radar Jogja.

Dia menilai ada banyak faktor yang menyebabkan materi tidak dapat dipahami siswa dengan baik. Mulai dari perilaku siswa yang memperhatikan guru atau tidak, hingga metode mengajar yang diterapkan sang guru. Mungkin selama ini yang terjadi ketika ada training yang diinformasikan hanya teorinya saja namun tidak spesifik. ”Cara guru mengupas konten, mengatur cara bicara, lamanya dia bicara, menarik atau tidak, kelamaan atau tidak. Itu bisa mengukur pengajaran yang tepat itu,” sambungnya.

Zulfikar memaparkan, pengajaran dan pembelajaran yang ideal jika dilihat dari prosesnya, guru harus memfasilitasi siswa. Selama ini, menurutnya, banyak yang sebatas sebagai instruktur.

”Misalnya siswa disuruh baca halaman buku, sebelum siswa membaca, guru sebaiknya siapkan 12 pertanyaan, sehingga guru membuat proses diskusi yang komunikatif dengan para siswanya,” bebernya.

Dia menambahkan, tipe pertanyaan pun tidak boleh seragam, harus berbeda tingkat kesulitannya. Agar kemampuan berpikir siswa berkembang. ”Hari demi hari memperbaikinya, belajar satu terapkan satu, berproses lah, dua sampai tiga tahun baru efektif biasanya,” tandasnya.

Sementara Program Manajer HAFECS Williams Rahaditama menerangkan, HAFECS sendiri adalah lembaga pelatihan guru-guru, dengan tujuan mempercepat transformasi pendidikan Indonesia. Melalui pengembangan metode pembelajaran di kelas serta pengembangan guru. Pelatihan tersebut diadakan sebagai sharing dan evaluasi metode belajar mengajar di kelas.

”Biar pendidikan Indonesia lebih baik lagi, dengan kebijakan, persturan, kurikulum, kami ingin berkontribusi dari aspek cara gurunya mengajar, bagaimana para guru mau terus belajar, meski sudah jadi guru,” ungkap Willi, sapaannya. (*/tif/ila)

Sumber : https://radarjogja.jawapos.com/2019/04/26/guru-masih-harus-belajar-untuk-mengajar/

Subscribe To Our Newsletter

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

× Hallo kami siap membantu Anda