Barito Kuala, 28 Agustus 2025 – Yayasan Hasnur Centre melalui HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services) serta GIBS (Global Islamic Boarding School) menggelar seminar internasional bertema “From Teaching Mastery to Whole Child Education: Future-Ready Learners“ pada Selasa, 27 Agustus 2025. Acara yang diselenggarakan di Auditorium Nurhayati Building ini dihadiri oleh 80 peserta yang berhadir secara luring dan 271 peserta dari seluruh Indonesia, serta dari berbagai jenjang pendidikan dan instansi.
Kolaborasi dengan Pakar Pendidikan Jepang
Seminar yang mengusung tema “Educating the Whole Child for a Better Future” ini juga menjadi pertanda dari awal mulanya kolaborasi riset internasional bersama institusi mitra Global Multicultural Society Research Institute, Bunkyo Gakuin University, Tokyo, Jepang. Acara ini juga sekaligus menjadi momen peluncuran Aplikasi TLC (Teaching and Learning Certification) dan program Open Class.
Empat narasumber pakar internasional dan nasional turut hadir dalam seminar ini, yaitu Prof. Kusanagi Kanako, Ph.D., (Dosen Pendidikan Guru dari Department of Educational Sciences, Graduate School of Education and Human Development, Nagoya University), Prof. Ryoko Tsuneyoshi, Ph.D. (Global and Multicultural Society Research Institute, Bunkyo Gakuin University, Tokyo, Jepang), Danang Bagus Yudistira, S.Si. M.Sc., (Deputy Director HAFECS), serta Tatang Suratno, M.Pd., (Holistic Education Principal of HAFECS).
Pembukaan dengan Kearifan Lokal

Acara dibuka dengan persembahan tari tradisional yang dibawakan oleh siswi GIBS, menunjukkan apresiasi terhadap budaya lokal. Sambutan pembuka disampaikan oleh Hairansyah, S.H., M.H. selaku Partnership Senior Executive Yayasan Hasnur Centre, yang menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan pendidikan.

Fokus pada Pendidikan Holistik Anak
Pembelajaran dari Perbandingan Budaya

Sesi pertama yang dibuka oleh pemaparan dari Tatang Suratno, menghimbau para guru untuk dapat memposisikan diri dalam pandangan siswa. Tatang memaparkan strategi menumbuhkan kesadaran, kepemimpinan, dan inisiatif anak dengan membandingkan budaya belajar di Jepang dan Indonesia, agar dapat mencontoh budaya positif dari perbandingan tersebut, serta mengimplementasikannya melalui TMF (Teaching Mastery Framework).
Konsep Tokkatsu dari Jepang

Dilanjutkan dengan sesi kedua yang dibawakan oleh Prof. Ryoko Tsuneyoshi, yang memperkenalkan konsep Tokkatsu (whole child education), suatu pendekatan yang menekankan pendidikan anak secara keseluruhan dengan fokus pada kedisiplinan. Prof. Ryoko memberikan contoh bagaimana cara penggunaan daily schedule (jadwal harian), serta penerapan Tokkatsu bagi siswa.
“Children doing something, not because they are told, not because adult is supervising them, but because they want to. They understand what it means,” jelas Prof. Ryoko, menekankan pentingnya motivasi intrinsik yang dapat mendukung proses pembelajaran dalam pendekatan Tokkatsu .
Implementasi Tokkatsu dalam Pembelajaran
Sesi ketiga dilanjutkan oleh Prof. Kanako Kusanagi yang melanjutkan pembahasan mengenai Tokkatsu dengan pemutaran video yang menunjukkan mengapa konsep ini penting untuk diterapkan. Beliau menekankan bahwa hubungan antar siswa, adanya kolaborasi, dan hubungan siswa dengan masyarakat merupakan elemen krusial dalam Tokkatsu. Prof. Kanako juga mendemonstrasikan bagaimana siswa dapat merancang aktivitas dalam lingkungan belajar yang kondusif.
Penjelasan dan Penerapan TMF (Teaching Mastery Framework)

Sesi keempat yang juga menjadi sesi penutup, dibawakan oleh Danang Bagus Yudistira yang menjelaskan bagaimana TMF (Teaching Mastery Framework) dikembangkan berdasarkan pengalaman guru di lapangan, dan bagaimana penerapan Tokkatsu dapat dihubungkan dengan konsep dari TMF. “TMF mengintegrasikan aspek PCK (Pedagogical Content Knowledge) agar guru dapat mengatasi dan membantu siswa dalam memahami pembelajaran di kelas,” papar Danang. Ia menunjukkan keterkaitan semua aspek dalam TMF dengan proses pembelajaran yang efektif.
Launching Program TLC (Teaching and Learning Certification) dan Open Class HAFECS
Acara dilanjutkan dengan launching Program TLC (Teaching and Learning Certification) yang dikembangkan oleh mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi, dan Open Class yang merupakan program kolaborasi antara HAFECS dengan GIBS, yang diharapkan dapat menjadi terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Rangkaian acara ini menunjukkan adanya komitmen HAFECS dalam memajukan pendidikan Indonesia melalui kolaborasi internasional dan penerapan konsep-konsep pendidikan terkini yang telah terbukti efektif di negara maju seperti Jepang. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi global, diharapkan lahir generasi pelajar yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Jurnalis: Syifa’an Kamila


Dunia pendidikan perlu kolaborasi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan nasional tercapai.Hafecs terbaik
artikel ini benar karena saya telah mencoba nya sendiri dan itu berhasil 90 sampai 98 persen pelajaran yang sebelumnya tidak…
Terbaik
PCK sangat berpengaruh guna membangun karakter peserta didik guna menunjang pengetahuan yang akan kedepannya
Bagaimana upaya melestarikan budaya nasional pada generasi muda?