Setiap siswa memiliki caranya masing-masing untuk mencerna informasi yang diterima di dalam kelas. Cara mencerna informasi ini disebut sebagai gaya belajar. Gaya belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa akan menentukan keberhasilan mereka dalam belajar. Dengan kata lain, gaya belajar adalah suatu metode yang digunakan untuk menyerap dan mengolah informasi maupun pengetahuan agar mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Guna mendapatkan hasil belajar yang maksimal, tentunya tak lepas dari peran guru sebagai tenaga pendidik. Seorang guru harus memperhatikan kualitas pembelajaran yang efektif bagi siswa. Salah satu bentuk pembelajaran efektif adalah ketika guru memastikan kebutuhan belajar siswanya dapat terpenuhi. Hal ini dilakukan dengan cara memperhatikan gaya belajar setiap siswa di dalam kelas. Dilansir dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Papilaya dan Huliselan, mahasiswa Universitas Pattimura yang berjudul “Identifikasi Gaya Belajar Mahasiswa” yang mengatakan bahwa sekitar 30% mahasiswa berhasil mengikuti pembelajaran di kelas, sedangkan sekitar 70% gagal mengikuti pembelajaran di kelas dikarenakan perbedaan gaya belajar dengan dosen/pengajar.

Data di atas menjadi tolok ukur untuk menilai seberapa pentingnya gaya belajar pada mahasiswa. Meski demikian, data tersebut dapat dijadikan patokan bagi para guru untuk mempelajari berbagai macam gaya belajar pada siswa. Gaya belajar dibagi menjadi 3 bagian, yakni gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik.

  • Gaya Belajar Visual

Gaya belajar visual merupakan suatu cara pembelajaran di mana kekuatan belajar terletak pada indra penglihatan. Gaya belajar visual menitikberatkan kemampuan belajar melalui cara melihat, mengamati, dan memandang suatu objek, gambar, maupun film. Siswa dengan gaya belajar visual dapat dilihat dari karakteristik mereka yang khas.

Beberapa contoh karakteristik siswa dengan gaya belajar visual seperti menyukai hal-hal yang bersifat rapi; mengutamakan tampilan gambar dan kesesuaian warna dalam powerpoint (PPT) saat presentasi; mengingat sesuatu dari apa yang dilihatnya; lebih suka mencoret-coret buku ketika belajar; lebih suka membaca daripada dibacakan; dan lebih suka melakukan pertunjukan seperti demonstrasi daripada berpidato.

  • Gaya Belajar Auditorial

Gaya belajar auditorial memiliki hal yang berkebalikan dengan gaya belajar visual. Gaya belajar auditorial lebih menitikberatkan kemampuan belajar pada indra pendengaran. Siswa yang memiliki gaya belajar auditorial lebih mudah untuk belajar dan mendapatkan stimulus dari suara atau penjelasan secara lisan. 

Karakteristik siswa yang memiliki gaya belajar auditorial adalah mereka yang cenderung merasa terganggu dengan suasana ramai; lebih suka mengucapkan apa yang dia baca; lebih suka membaca dengan suara lantang; lebih suka berpidato daripada melakukan suatu pertunjukkan; lebih suka dibacakan; dan lebih suka berdiskusi.

  • Gaya Belajar Kinestetik

Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki kecenderungan belajar dengan melakukan gerakan maupun menyentuh dan merasakan barang dengan indra perabanya. Siswa dengan gaya belajar kinestetik memiliki ciri-ciri yang selalu berorientasi pada fisik; menghafal dengan cara berjalan maupun menggerakkan tangan; mengerjakan sesuatu bersamaan dengan gerakan-gerakan ringan pada tangan; menggunakan jari, pensil, bolpoin maupun peraga yang lain sebagai penunjuk ketika membaca; dan tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama.

Ketiga gaya belajar tersebut merupakan gaya belajar yang berbeda yang dimiliki oleh setiap siswa. Dengan demikian agar sebaiknya guru memperhatikan kebutuhan khusus dari masing-masing karakteristik gaya belajar pada siswa. Meskipun begitu, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Widayanti tahun 2013 mengungkap hanya sedikit siswa yang memiliki satu gaya belajar yang menonjol. Umumnya siswa memiliki lebih dari satu gaya belajar. Namun, dengan mengetahui kecenderungan gaya belajar siswa, guru dapat menentukan pendekatan pembelajaran untuk mendapatkan hasil akademik yang baik.

Referensi:

Bire, Arylien Ludji, Dkk. 2014. “Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik Terhadap Prestasi Belajar Siswa.” Jurnal Kependidikan, 44(2): 168-174. Tersedia dalam https://doi.org/10.21831/jk.v44i2.5307 

https://unsplash.com/photos/o_lLsdVTxak

Ningrat, S. P., Tegeh, I. M., & Sumantri, M. 2018. “Kontribusi Gaya Belajar dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia.” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 2(3): 257-265. Tersedia dalam  https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JISD/article/view/16140 

Papilaya, Jeanete Ophilia, & Neleke Huliselan. 2016. “Identifikasi Gaya Belajar Mahasiswa.” Jurnal Psikologi Undip, 15(1). Tersedia dalam https://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/view/12992 

Sudrajat, Jajat. 2013. “Studi Peningkatan Kualitas Belajar Melalui Analisis Gaya Belajar Individu Dalam Membentuk Kompetensi Entrepreneurship.” The Winners, 14(2). Tersedia dalam https://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/view/12992 

Saputri, Fajar Isnaeni. 2016. “Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditori, Dan Kinestetik Terhadap Prestasi Belajar Siswa.” Jurnal Prima Edukasia. Tersedia dalam http://fajarisnaeni.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/15307/2017/10/PENGARUH-GAYA-BELAJAR-VISUAL-AUDITORIAL-DAN-KINESTETIK-TERHADAP-PRESTASI-BELAJAR-SISWA.pdf 

Widayanti, Febi Dwi. 2013. “Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Siswa Dalam Kegiatan Pembelajaran Di Kelas.” ERUDIO, 2(1). Tersedia dalam https://erudio.ub.ac.id/index.php/erudio/article/view/228 

 

Penulis: M. Rezeki Alvianto

Editor: Annisa Fitriani