BARITO KUALA — Dua sesi pelatihan daring dalam pelaksanaan program Elevate Class Januari 2026 yang digelar HAFECS menjadi bukti nyata bahwa tema besar “Optimalisasi Kecerdasan Artifisial dalam Pembelajaran Abad 21” yang dibawakan bukan hanya sekadar wacana. Melalui program Elevate Class, para pendidik dari berbagai jenjang — mulai guru SD hingga dosen perguruan tinggi — mendapat ruang untuk belajar, berlatih, dan berdialog dengan Kecerdasan Artifisial (KA) secara langsung.
Sesi I: Modul Ajar Lebih Rapi dan Terukur Berkat Kecerdasan Artifisial

Sesi pertama berlangsung pada Senin, 27 Januari 2026, pada pukul 16.00–17.30 WITA, serta dipandu oleh salah satu trainer berpengalaman HAFECS, Aulida Mardiari, S.Pd. Sebanyak 67 peserta dari jenjang SD, SMP/MTs, SMA/MA, hingga dosen hadir secara daring melalui Zoom untuk mengikuti pelatihan bertajuk mendesain modul ajar dengan bantuan KA.
Konteks yang diangkat merupakan topik yang sangat menarik dan relevan di kalangan para pendidik: di tengah tuntutan kurikulum yang terus berkembang, penyusunan modul ajar yang berkualitas sering kali menyita waktu dan banyak tenaga. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana KA dapat menjadi asisten yang andal — mulai dari merumuskan struktur modul, menyarankan variasi aktivitas pembelajaran, hingga membantu menyusun instrumen asesmen yang beragam.
Namun satu prinsip ditekankan berulang kali adalah KA hanya menjadi alat bantu; kesesuaian materi dengan konteks kelas, akurasi konten, dan relevansi bahasa tetap menjadi tanggung jawab pendidik. Peserta pun dilatih menyusun prompt yang efektif — sebuah keterampilan baru yang kian krusial di era kolaborasi manusia dan mesin.
Sesi II: Dari Ilustrasi hingga Permainan Interaktif — Media Pembelajaran Lahir dari Pembuatan Prompt yang Inovatif

Sesi kedua Elevate Class yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Februari 2026, pukul 16.00–17.30 WITA, HAFECS kembali membuka ruang belajar pemanfaatan teknologi KA untuk para pendidik. Kali ini Hamas Akief Sanie, A.Md.Kom. tampil sebagai narasumber untuk sesi yang berfokus pada penciptaan media pembelajaran kreatif berbasis KA.
Sesi kedua ini hadir sebagai respons terhadap kenyataan lapangan: banyak guru memiliki gagasan media yang menarik, tetapi terkendala kemampuan desain teknis. KA memutus hambatan tersebut. Peserta diperkenalkan cara memanfaatkan KA untuk menghasilkan media pembelajaran yang lebih menarik dan berkembang, tanpa harus menggunakan ataupun menguasai perangkat desain grafis tertentu.
Seperti sesi sebelumnya, penguasaan prompt menjadi kompetensi inti yang dilatih. Peserta diarahkan memahami bahwa kualitas output KA sangat bergantung pada kejelasan perintah yang diberikan: semakin spesifik dan kontekstual sebuah prompt, semakin relevan media yang dihasilkan. Narasumber pun menegaskan satu filosofi yang menjadi benang merah seluruh rangkaian Elevate Class — KA hadir untuk membantu guru bekerja lebih efisien, bukan untuk mengambil alih peran pedagogis yang tetap menjadi hak eksklusif manusia.
Optimalisasi KA: Membangun Sikap Kritis Pendidik terhadap Teknologi
Dengan terlaksananya dua sesi Elevate Class ini, diharapkan para guru dapat lebih mengoptimalisasi kecerdasan artifisial dalam pendidikan. Tidak hanya menerima KA secara buta, melainkan tentang membangun pendidik yang mampu bersikap kritis, selektif, dan strategis terhadap teknologi. Pembelajaran Abad 21 yang bermakna adalah yang menempatkan guru dan KA dalam posisi yang tepat — bukan saling menggantikan, melainkan saling menguatkan.
Jurnalis: Nur Syifa | Editor: Syifa’an Kamila


Dunia pendidikan perlu kolaborasi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan nasional tercapai.Hafecs terbaik
artikel ini benar karena saya telah mencoba nya sendiri dan itu berhasil 90 sampai 98 persen pelajaran yang sebelumnya tidak…
Terbaik
PCK sangat berpengaruh guna membangun karakter peserta didik guna menunjang pengetahuan yang akan kedepannya
Bagaimana upaya melestarikan budaya nasional pada generasi muda?