(Source:Unsplash.com)

Bahasa merupakan sebuah alat untuk berkomunikasi. Bahkan sejak di dalam kandungan, janin biasanya sudah diberikan asupan ucapan dan didengarkan lagu atau bacaan dari agama yang dianut oleh orang tua. Bahasa pada hakikatnya merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer atau manasuka yang digunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana, 2002). Lebih lanjut, Owen (via Solehan, 2011) menerangkan bahwa bahasa bisa diidentifikasi sebagai sebuah kode yang dapat diterima secara sosial dan memiliki kegunaan sebagai simbol-simbol yang dikehendaki serta diatur oleh ketentuan tertentu.

Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993:20) adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal. Menurut Dardjowidjojo (2003) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural waktu ia belajar bahasa ibunya.

Idealnya anak mulai memahami suatu bahasa sejak kecil.. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (native language) (Dardjowidjojo, 2003). Bahasa digunakan oleh anak untuk berkomunikasi pada kawan sebaya dan kepada orang yang lebih tua tentang hal yang baru.

Aspek fonologis dan morfologis adalah dua hal yang memengaruhi dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak. Semisal pada aspek fonologis, ketika seorang anak mengalami kesulitan mengucapkan huruf “R” atau dikenal sebagai cadel. Hal tersebut memengaruhi pada bagian pengucapan huruf ‘’R’’ yang terdengar sebagai huruf ‘’L’’ akibat pengucapan dalam mulut hampir sama. Menurut studi yang dilakukan oleh Françoise Brosseau-Lapré Dan Susan Rvachew dalam jurnal “Underlying manifestations of developmental phonological disorders in French-speaking pre-schoolers” anak-anak pra sekolah yang tinggal di Prancis melakukan pembelajaran bahasa selama 40-50 menit per hari untuk menyelesaikan masalah mereka pada developmental phonological disorders (DPD) atau kesulitan dalam berartikulasi yang baik.

Tahapan Pemerolehan Bahasa

Menurut Muhammad Yasir dalam jurnal “Pemerolehan Bahasa Pertama Pada Anak Usia 9 Tahun: Kajian Pemerolehan Fonologi Dan Ujaran” ada empat proses dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak: (1) Tahap pemerolehan kompetensi dan performansi, dalam memperoleh bahasa pertama anak mengambil dua hal abstrak dalam teori linguistik yaitu kompetensi dan performansi. Kompetensi adalah pengetahuan mengenai gramatika bahasa ibu. Dimana gramatika terdiri atas tiga komponen, yaitu semantik, sintaksis, dan fonologi yang diperoleh secara bertahap, (2) Tahap pemerolehan semantik, pemerolehan sintaksis bergantung pada pemerolehan semantik. Bagian pertama yang diperoleh oleh anak bukanlah struktur sintaksis melainkan makna (semantik). Sebelum mampu mengucapkan kata sama sekali, anak-anak akan rajin mengumpulkan informasi tentang lingkungannya. (3) Tahap pemerolehan sintaksis, konstruksi sintaksis pertama pada anak dapat diamati saat usia 18 bulan. Pembentukan satu atau dua kata yang terucap pada anak merupakan susunan untuk mengungkapkan sesuatu. Anak mampu memproduksi bahasa sasaran untuk mewakili apa yang ia maksud. (4) Tahap pemerolehan fonologi, secara fonologis, anak yang baru lahir memiliki perbedaan organ bahasa yang amat mencolok dibanding orang dewasa dan berkembang melalui bunyi-bunyi dasar.

Pembagian Tahapan Pemerolehan Bahasa

Dalam perkembangan bahasa pada anak dapat dibagi tiga, yaitu: Pertama, perkembangan prasekolah. Kedua, perkembangan ujaran kombinatori. Ketiga, perkembangan masa sekolah. Pada tiga tahapan perkembangan tersebut mulai dilihat ketika anak memasuki usia pra sekolah hingga pada masa sekolah pertama. Pada masa pra sekolah orang yang paling berpengaruh adalah orang tua dan orang yang berada di lingkungan terdekat anak. Saat masa sekolah orang yang paling berpengaruh adalah orang-orang yang berada di lingkungan sekolah dan rumah. Oleh karena itu, dalam pemerolehan bahasa, orang tua dan lingkungan sekitar harus berperan aktif dengan memberikan kosakata yang banyak.

Dalam perkembangannya pemerolehan bahasa pertama, orang tua sangat berperan penting dalam pemerolehan nya. Lingkungan tempat tinggal anak pun tidak luput dari perhatian, karena dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak, lingkungan akan berperan untuk mengajarkan secara langsung. Lingkungan mengajarkan secara langsung, karena orang di sekitar anaklah yang mengajarkan bahasa kepada anak.

Tahapan-tahapan dalam pemerolehan bahasa pun disusun berdasarkan struktur linguistik yang terjadi. Struktur tersebut dimulai dari pemahaman secara semantik hingga pengucapan secara fonologis. Pemahaman secara semantik adalah bagaimana anak memahami sebuah pengucapan. Sedangkan, pengucapan secara fonologis adalah bagaimana anak mengucapkan sebuah kata.

Pemerolehan bahasa pertama sangat penting untuk dilihat, karena pada waktu  tersebut orang tua harus mengajarkan banyak kosa kata sehingga anak memiliki pengetahuan kosa kata yang banyak. Lingkungan dan tempat tinggal anak harus mengajarkan kata-kata yang baik nan beragam. Sehingga, anak bisa memiliki kosa kata yang kaya. Maka dari itu, akan ada artikel lanjutan tentang pemerolehan bahasa pada anak usia SD.

DAFTAR PUSTAKA

Andini, H. (2018). Pemerolehan Bahasa Indonesia pada Anak Usia 0-2 Tahun: Kajian psikolinguistik. LINGUA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 15(1), 45-52.

Azis, A. (2017). Pemerolehan Kosakata Bahasa Pertama Anak Kedua Usia 16 Bulan. RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 8(2).

Brosseau-Lapré, F., & Rvachew, S. (2017). Underlying manifestations of developmental phonological disorders in French-speaking pre-schoolers. Journal of child language, 44(6), 1337-1361.

Chairunnisa, C. Pemerolehan Bahasa Pada Bayi Dan Anak. Cakrawala Dini: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 9(2), 125-137.

Dardjowidjojo. (2003). Psikolinguistik. Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Fatmawati, Suci Rani. 2015. Pemerolehan Bahasa Pertama Anak Menurut Tinjauan Psikolinguistik. Samarinda: Prodi Pendidikan Anak Usia Dini Islam (PAUDI) di IAIN Samarinda.

Haliza, N., Kuntarto, E., & Kusmana, A. (2020). Pemerolehan bahasa anak berkebutuhan khusus (tunarungu) dalam memahami bahasa. Metabasa: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran, 2(1).

Kridalaksana. (2002). Struktur, Kategori, dan Fungsi Dalam Teori Sintaksis. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Pitaloka, A. (2021). Peranan Keluarga Dalam Pemerolehan Bahasa Anak di Masa Pandemi Covid-19. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 10(1), 43-48.

Solehan. (2011). Pendidikan bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.

Suardi, Indah Permatasari, Dkk. (2019). Pemerolehan Bahasa Pertama pada Anak Usia Dini. Padang: Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Volume 3 Issue 1 (2019) Pages 265 – 273. DOI: 10.31004/obsesi.v3i1.160.

Yanti, P. G. (2016). Pemerolehan bahasa anak: kajian aspek fonologi pada anak usia 2-2, 5 tahun. Jurnal Ilmiah Visi, 11(2), 131-141.

Yasir. Muhammad. 2021. Pemerolehan Bahasa Pertama Pada Anak Usia 9 Tahun: Kajian Pemerolehan Fonologi Dan Ujaran. Jakarta: Program Studi Teknik Industri Universitas Indraprasta PGRI. DOI: 10.30998/deiksis.v13i3.10046.

Penulis: Khairul Ilham

Editor: Muhammad Zakwan