By: Zulfikar Alimuddin

Pada pelaksaan sebuah proses, salah satu aspek yang penting adalah penilaian pada proses itu. Penilaian itu sendiri seharusnya mencakup minimal tiga dimensi, yaitu: ‘monitoring (pemantauan), review (pemeriksaan ulang), dan evaluasi (peninjauan atas sebuah design sebuah proses, pelaksanaan- nya, efektifitas program tersebut, dan ketercapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dampak-dampak yang telah terbentuk akibat proses tersebut). Elaborasi semacam ini diperlukan agar para pihak yang terlibat pada sebuah proses bisa melihat lebih objective dan tuntas atas berbagai hal terkait program tersebut.

Dalam dunia pendidikan, bagaimana proses penilaian atas sebuah proses belajar – mengajar sebagai salah satu komponen utama proses pendidikan bisa dinilai? Apa bahan acuan utama proses penilaian tersebut? Apakah penilaian yang dilakukan bisa menilik setiap bagian proses belajar-mengajar itu dengan baik dan benar? Seringkali ditemukan, proses penilaian dilaku- kan secara adhoc (bertumpu pada observasi di kelas) dan atau atas hasil ujian-ujian yang diberikan ke- pada siswa.

Prinsip pengembangan karakter siswa ramai dibicarakan dan sangat diharapkan (kalaupun tidak dituntut) dari sebuah proses pendidikan, namun apakah proses pengembangan karakter itu sudah dimasukkan sejak awal perencanaan pembelajaran? Kalaupun dilakukan, maka banyak yang melakukannya sebatas mencantumkan bentuk-bentuk karakter yang diharapkan dan terkadang menyisipkan pesan-pesan tentang karakter itu tanpa terhubung dengan materi pembelajaran. Kesan yang muncul dari kejadian ini adalah guru cenderung menceramahi siswa, bukan mengajak siswa menginternalisasi nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari bentuk pemahaman atas pembelajaran topik yang sedang dipelajari di kelas.

Subscribe To Our Newsletter

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

× Hallo kami siap membantu Anda